Cari

Betapa Menyedihkannya Tidak Mahir Berenang di Tempat-Tempat Pemandian


Ilustrasi: pexels.com

Baiklah, kita mulai saja tulisan yang tidak berfaedah ini. Dulu waktu masa SD, saya sering diajar berenang oleh Andaeng (panggilan saya ke bapak) di pantai dekat rumah. Sejak itu, saya selalu merasa telah mahir berenang padahal tidak mahir-mahir amat. Paling cuma bisa gaya bebas. Itupun hanya beberapa meter di air yang dangkal. Alhasil, pas SMA, ketika saya dan teman-teman berkunjung ke sebuah air terjun, saya hampir tenggelam sebab airnya yang cukup dalam. Sejak itu saya pun perlahan menyadari bahwa saya bisa terlihat seperti perenang profesional hanya di ketinggian air sedada atau paling tinggi seleher. Lebih dari itu, mana berani saya.

Cerita selanjutnya, meskipun tidak semengerikan yang sebelumnya, namun tetap bisa dikata cukup suram. Ketika masa-masa kuliah, beberapa kali saya dan teman-teman berkunjung ke tempat-tempat wisata air, tak terkecuali air terjun tentunya. Dengan kemampuan berenang yang pas-pasan itu, saya harus rela menyaksikan teman-teman berenang di tempat-tempat dalam sementara saya hanya bisa berenang di pinggir yang berbatu. Sungguh menyedihkan juga rasanya melihat orang lain mampu menikmati loncat dari batu-batu yang tinggi ke dalam air sedangkan saya hanya mampu senyum-senyum menyaksikan mereka. Rasa-rasanya saya bisa juga melakukan itu, hanya saja saya tak mahir berenang.

Cerita suram lain misalnya datang ketika saya ber-KKN di sebuah desa bernama Moncongloe yang ada di Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Suatu kali saya dan teman-teman posko berkunjung ke sebuah sungai yang cukup besar di sana bersama beberapa anak-anak desa. Sungai itu memang sering dikunjungi anak-anak untuk mandi sekaligus bermain. Jadi ceritanya, ketika yang lainnya berenang di sungai itu, saya justru masih pikir-pikir untuk turun berenang. Seorang anak kemudian bertanya kemampuan berenang saya. Mendengar itu, saya cuma bisa menjawab kalau sebetulnya saya bisa hanya saja tidak terlalu mahir. Yang terjadi selanjutnya sebetulnya tidak terlalu buruk. Saya tetap ikut menikmati bersenang-senang bersama mereka di air. Akan tetapi, menyaksikan anak-anak itu menikmati berenang di tempat dalam dengan arus yang cukup deras sementara saya hanya bermain di pinggir dan tempat dangkal membuat cemburu juga.

Lain air terjun dan sungai, lain pula di kolam renang. Beberapa kali saya dan teman-teman mengisi waktu kosong dengan mengunjungi kolam-kolam pemandian. Hasilnya sama saja, lagi-lagi saya cuma bisa  main di tempat dangkal atau yang paling buruk, ya tidak turun berenang. Di kolam renang seperti  itulah saya paling sering kena umpatan, dibilang cemen atau berbagai ejekan lainnya. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya harus membela diri dengan terjun juga ke kolam. Tapi apa mau dikata, kolam dangkal lagi kolam dangkal lagi tentunya. Sungguh pembelaan diri yang memalukan.

Belakangan ini saya jadi sering menolak ajakan teman-teman ketika mereka ingin berenang lagi di kolam pemandian. Bukan apa-apa, saya tak sanggup menyaksikan kesenangan mereka di atas penderitaan saya sendiri. Makanya, salah satu tempat hiburan yang saya hindari, ya kolam-kolam pemandian dan kawan-kawannya itu. Kalaupun seumpama kalian melihat saya berada di sana, itu bisa terjadi hanya karena dua alasan: pertama karena saya memang terpaksa, kedua karena saya dapat yang gratisan. Sepertinya itu saja.


Sudah, saya akhiri saja tulisan yang dari awal saya katakan tidak berfaedah ini. Ehh, tapi tunggu dulu, apa betul tulisan ini tidak memiliki manfaat? Bisa jadi ada meski hanya satu: paling tidak belajarlah berenang agar hidupmu tak menyedihkan, setidak-tidaknya itu bisa terjadi di tempat-tempat pemandian. Begitu anak muda.

#15HariMenulis

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Betapa Menyedihkannya Tidak Mahir Berenang di Tempat-Tempat Pemandian"

Posting Komentar